Wednesday, November 01, 2006

Pohon Cinta Orang Korea

Pada suatu hari, saya dan dua orang teman pria (satu Indonesia dan satu Korea) berjalan-jalan di Nami seom, sebuah pulau buatan yang sangat terkenal menjadi lokasi drama seri Korea kondang “Winter Sonata”.

Pulau Nami sebenarnya adalah sebuah daratan yang mengapung di sebuah danau. Bentuknya seperti bulan sabit. Untuk sampai ke pulau ini orang harus naik kapal ferry 10 menit lamanya. Danau ini terletak di Propinsi Kangwon di sebelah timur laut semenanjung Korea.

Pulau Nami tidak terlalu luas. Orang bisa berjalan mengitarinya, yaitu menyusur sepanjang tepinya, jika berjalan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan tak akan memakan waktu 2 jam. Jika naik sepeda akan makan waktu kira-kira 1 jam. Dan kalau naik mobil jip khusus lebih cepat lagi, paling setengah jam. Jadi ada banyak cara untuk menikmati pemandangan indah pulau Nami.

Pulau Nami menjadi terkenal karena menjadi lokasi kisah drama antara Joon-sang dan kekasihnya, Yoo-jin. Joon-sang (Bae Young Jun) digambarkan sebagai pria yang berhati lembut dan penuh perhatian pada wanita. Karakteristik Bae yang gentleman ini membuat dia sangat diidolakan ibu-ibu di Jepang yang menonton sinetronnya. Bahkan mereka sampai memberi julukan khusus “Yonsama” padanya.

Alkisah di drama seri Winter Sonata ini terjadi kisah cinta yang manis tapi tragis antara Joon-sang dengan Yoo-jin. Kedua remaja ini lahir dan besar di Pulau Nami dan jatuh cinta, masing-masing sebagai cinta pertama. Mereka berdua meninggalkan Pulau Nami untuk menempuh SMU di kota lain (Chuncheon). Pada suatu hari mereka berjanji akan bertemu pada malam Tahun Baru. Pada malam pertemuan itu, Yoo-jin menunggu kekasihnya di tepi jalan yang dijanjikan. Situasi malam tahun baru diguyur hujan salju dan tubuh Yoo-jin menggigil karena kedinginan, tetapi Joon-sang yang ditunggu tidak kunjung datang. Pada saat Yoo-jin menunggu, sebenarnya Joon-sang dalam perjalanan ke bandara dan akan terbang ke Amerika. Tetapi dalam perjalanan Joon-sang keluar dari mobil dan berlari menuju tempat dimana ia dan Yoo-jin berjanji akan bertemu. Malang tak dapat ditolak, ketika hampir sampai di tempat yg dijanjikan Joon sang tertabrak mobil dan tewas Cinta Joon-sang kepada Yoo-jin membuatnya rela menggagalkan kepergiannya ke Amerika.

Jajaran pohon pinus di Pulau Nami ini begitu artistik. Deretan pohon pinus yang berukuran besar seolah mengawal sebuah jalan setapak berukuran 5 meter menuju tepi pulau Nami. Di tepi pulau Nami air danau yang hijau dan bergelombang deras menggambarkan gejolak kehidupan manusia yang mengalir terus seperti air. Di deretan pohon-pohon pinus itulah, dalam “Winter Sonata” hubungan Yoo-jin dan Joon-sang berkembang menjadi cinta yang kokoh.

Saat-saat berjalan mengelilingi pulau Nami itu, sampailah saya dan dua teman saya di tempat yang jalan setapaknya dipagari oleh pohon-pohon pinus. Tiba-tiba saya teringat beberapa film Korea yang selalu melibatkan pohon pinus dalam kisah percintaan orang Korea.

Saya ingat dalam film favorit saya, “My Sassy Girl”, kedua tokoh utamanya yang belum sepakat dengan masa depan hubungan cinta mereka memutuskan untuk menyimpan surat bertuliskan perasaan mereka satu sama lain dan menguburnya di bawah sebuah pohon pinus. Mereka berjanji, kelak di tempat yang sama dua tahun lagi akan bertemu. Pada saat itu, nasib hubungan mereka akan mereka tentukan. Menikah atau berpisah. Keduanya lantas tidak saling bertemu selama 2 tahun. Dua tahun berlalu dan hanya si pria yang datang kembali ke pohon pinus itu. Ia menunggu kekasihnya yang tidak datang-datang. Kekasihnya datang setelah 3 tahun dan tentu saja tidak bertemu dengan teman prianya.

Ketika dia sedang asik memandang pohon pinus dengan hati yang gundah, seorang kakek menyapa.
“ Apa yang sedang kamu lakukan, gadis cantik?”
“Saya sedang menunggu seorang pria. Kami berjanji bertemu disini satu tahun yang lalu, tapi saya tidak datang”.
“Apakah kamu melihat keanehan pada pohon pinus ini?” Tanya laki-laki tua tadi.
“Tidak, sepertinya sama seperti pohon pinus yang dulu”

Laki-laki tua itu tersenyum. Ia berkata:
“Setahun yang lalu ada seorang pemuda datang ke tempat ini menunggu kekasihnya. Hatinya sangat kacau karena pohon pinus tersebut telah tumbang disambar petir. Maka ia segera mencari pohon pinus yang mirip dan menanamnya di tempat pohon pinus yang tumbang itu. Ia khawatir, jika pohon pinus itu hilang maka hati kekasihnya akan sedih”.

Si gadis terkesiap mendengar cerita itu. Ia perhatikan memang pohon pinus itu agak berbeda dengan pohon pinus yang dahulu. Hatinya tersentuh oleh penuturan Kakek tua tentang apa yang telah dilakukan kekasihnya. Ia merasa menyesal mengapa menyia-nyiakan cinta kekasihnya selama bertahun-tahun…

Demikian cerita tentang pohon pinus yang menjadi bukti ketulusan dan kekuatan cinta. Kasih sayang dan cinta orang Korea yang mendalam dan tak pernah terakhir juga pernah saya saksikan dalam film “Letter”. Dalam kisah ini, seorang pria yang meninggal karena sakit kanker otak meninggalkan sebuah pohon pinus untuk anak dan istrinya. Sebuah simbolisasi dari cinta yang tak pernah pupus, walau malaikat maut memisahkan dua insan yang saling mencintai.

Tergelitik oleh kisah-kisah pohon pinus di film-film dan sinetron korea tersebut, saya bertanya kepada teman Korea saya.

“Mengapa orang Korea sering melibatkan pohon pinus dalam kisah cinta mereka?”

Teman saya tersenyum dan menyipitkan matanya (yang sudah sipit itu).
“Pohon pinus itu batangnya tegak dan lurus,” jawabnya. “Itu simbol cinta yang lurus dan tidak bercabang-cabang.”

Kami berjalan lagi sambil memperhatikan pohon pinus yang batangnya kokoh dan lurus-lurus. Ah, saya membatin, alangkah indahnya cinta yang kokoh. Seperti kekokohan cinta Jun-sang dalam “Winter Sonata” dan tokoh laki-laki dalam film “My Sassy Girl”.

Dan alangkah indahnya cinta yang lurus itu, utuh dan tidak terbagi-bagi. Saya membatin lagi, bagaimana orang bisa memberikan cinta yang penuh kepada orang yang dia kasihi kalau perhatiannya dia bagikan kepada (banyak) orang lain???

Teman Korea saya tiba-tiba menunjuk kepada jajaran pohon pinus yang daunnya tetap hijau walaupun di musim dingin.
“Daun pohon pinus itu ever green, selalu hijau. Itu ibarat cinta yang tidak pernah berakhir.”

Everlasting love. Oh, betapa indahnya. Walaupun penyakit akan memisahkan sepasang kekasih, cinta dihati mereka tetap utuh seperti pohon pinus yang selalu hijau di setiap musim.

Saya termangu. Pohon pinus adalah pohon cinta bagi orang Korea karena mengandung filosofi cinta yang kokoh, lurus dan tak pernah berakhir.

Hmmm.. saya jadi ingin bersandar pada “sebatang pohon pinus”. Ingin merasakan perlindungan dan keteduhannya selamanya…***

Kenangan di Nami seom bersama Kim Hyung Jong sonsengnim, April 2006

2 Comments:

At 8:23 PM, Blogger HitmanSystem.com said...

Bicara soal rahasia hubungan cinta, saya baru saja menulis sebuah e-book terbaru yang akan merevolusi paradigma tentang dinamika sosial pria-wanita Indonesia dalam dunia romansa dan percintaan, berjudul The Secret Law of Attraction (bukan sampah new age seperti yang beredar selama ini), sekaligus kunci otomatis untuk menarik popularitas dan trafik blog Anda.

Download rahasia besar tersebut dalam e-book yang terdapat di http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm

 
At 3:58 PM, Blogger dita oktamaya said...

hi, salam kenal..tukern link ya..^^

 

Post a Comment

<< Home