Wednesday, September 14, 2005

Cerita di Balik Mata Uang

Tidak ada yang meragukan bahwa benda ini sangat diperlukan ketika mengunjungi Korea Selatan. Bahkan benda ini merupakan salah satu hal paling penting yang harus berada di tangan sebelum melangkah masuk ke wilayah Negeri Kimchi. Karena sangat penting nilai dan fungsinya, saya sering membawanya kemana-mana di dalam dompet. Namun baru akhir-akhir ini saja saya memperhatikannya dengan rasa ingin tahu arti gambar-gambar yang tercetak pada mata uang kertas maupun uang logam Korea Selatan.

Tulisan Prof. Andrei Lankov dari Australia National University (The Korea Times, 13 April 2004) yang berjudul "The Other Side of the Coin" mengenai sejarah koin Korea, menyadarkan saya bahwa gambar-gambar yang tercetak di mata uang Korea Selatan ternyata mempunyai latar belakang kisah dan bahkan sejarah yang sangat menarik. Bahkan budaya dan nilai-nilai kehidupan bangsa Korea yang unik bisa diketahui dari gambar mata uang tersebut.

Sebenarnya Korea Selatan baru mempunyai koin sendiri pada tahun 1959. Pada masa penjajahan Jepang (1910-1945) dan sebelum tahun 1959 Korea Selatan menggunakan koin negeri asal samurai tersebut. Koin pertama Korea Selatan dicetak di luar negeri, yaitu di Philadelphia (Amerika Serikat) dengan tiga nilai: 10, 50 dan 100 hwan. Ternyata dulunya mata uang Korea Selatan dinamakan hwan, bukan won.

Pada koin 100 hwan terdapat potret wajah dari samping presiden pertama Korea Selatan, Rhee Syngman. Presiden Rhee dulu adalah seorang aktivis kemerdekaan yang sangat gigih melawan penjajahan Jepang. Di sisi lain koin 100 hwan ada gambar dua burung Phoenix dengan ekor yang panjang menjuntai. Uniknya, tahun diterbitkannya koin ini tercetak tahun 4292. Mengapa tahun 4292? Karena sampai tahun 1962 Korea Selatan masih menggunakan penanggalan yang disebut dengan "Tangun era". Jika dihitung dari awal lahirnya negara Korea Selatan maka tahun 1959 sama dengan tahun 4292 penanggalan Tangun.

Pada koin senilai 10 hwan ada gambar simbol negara Korea Selatan yang disebut Mugunghwa (The Rose of Sharon) sedangkan koin senilai 50 hwan ada gambar sebuah perahu. Mengenai perahu ini ada hikayat tersendiri. Pada tahun 1592 dalam rangka membuka jalur perdagangan darat ke Cina, seorang Kaisar Jepang bernama Hideyoshi mengirim 170.000 tentara dan 700 kapal perang untuk menginvasi Korea. Pada saat itu angkatan laut Korea sangat kecil jumlahnya tetapi melakukan perlawanan yang gigih dan menyerang kapal perang Jepang dengan menggunakan kapal perang berlapis besi yang bentuknya mirip dengan kura-kura. Jepang berhasil dipukul mundur dalam peperangan selama 7 tahun yang terkenal dengan sebutan Yim Jin War. Sedangkan perahu tersebut kemudian menjadi tersohor dengan sebutan "perahu kura-kura".

Mata uang hwan berlaku hanya sampai bulan Agustus tahun 1966 atau beredar sekitar 7 tahun saja. Pada masa itu terjadi beberapa perubahan mendasar pada desain mata uang Korea Selatan. Mata uang yang baru juga berbentuk koin tetapi disebut won. Penanggalan Tangun diganti dengan tahun kalender biasa. Lalu pada sisi yang tertulis nilai mata uang tidak lagi ditulis Republic of Korea tetapi Hankuk Enheng (nama bank sentral Korea Selatan).

Salah satu koin yang di keluarkan pada tahun 1966 bernilai 10 won dan bergambar Pagoda Tabo (Tabotap). Pagoda Tabo merupakan salah satu peninggalan arsitektur bersejarah yang paling indah di Korea. Desain pagoda ini terkesan feminim dan rumit, konon menggambarkan kompleksitas kehidupan dunia. Pagoda yang dibangun pada tahun 756 ini masih tegak di halaman Kuil Bulgeuk (Bulgeuksa) di kota Kyongju Provinsi Kyongsang Utara.

Pada akhir dekade 1960-an, koin 1 dan 5 won menjadi koin yang paling banyak digunakan oleh rakyat Korea Selatan. Kala itu ongkos naik tram hanya 5 won (sekarang ongkos naik subway 800 won). Namun koin 10 won yang berwarna kuning emas dan bergambar Tabotap ternyata menjadi koin yang paling disukai orang Korea pada masa itu.

Hingga sekarang koin 10 won keluaran tahun 1971 dan 1972 masih banyak beredar dan tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Saya sering menerima koin ini sebagai uang kembalian dan koin ini saya kumpulkan untuk membeli secangkir kopi krim yang hangat dan enak di mesin-mesin minuman. Ada pun nasib koin 1 dan 5 won sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai tak digunakan lagi dan saya pun sampai sekarang belum pernah menyaksikannya.

Tingginya inflasi pada tahun 1970 mendorong dikeluarkannya koin baru senilai 100 won. Pada satu sisinya bergambar wajah tokoh legendaris Korea, Laksamana Yi Sun-sin (yang patungnya berdiri gagah di perempatan Ganghwamun depan Istana Kyeongbuk, Seoul). Laksamana Yu Sun-sin inilah yang menciptakan "perahu kura-kura" dan sekaligus yang memimpin pasukan Korea melawan invasi Kaisar Hideyoshi. Karena jasa-jasanya itu wajahnya diabadikan sebagai gambar koin 100 won.

Koin senilai 50 won dicetak pertama kali pada tahun 1972 dan bergambar serumpun padi yang merunduk. Mengapa serumpun padi dijadikan gambar koin? Padi adalah tanaman yang sangat penting bagi bangsa Korea sejak dulu maupun sekarang. Sebab makanan pokok orang Korea Selatan adalah nasi. Sulit dibayangkan kalau sehari saja orang Korea tidak makan nasi, seperti halnya sulit membayangkan orang Korea tidak makan kimchi.

Akhirnya pada tahun 1983 keluarlah koin yang ukurannya paling besar dibandingkan dengan koin-koin yang lain. Di antara semua koin, nilainya juga paling tinggi yaitu 500 won. Gambarnya burung bangau yang sedang terbang dan merentangkan sayapnya. Burung yang sering ditemui di persawahan ini bagi orang Korea Selatan merupakan simbol perdamaian.

Hingga sekarang Korea Selatan masih menggunakan koin bernilai 10, 50, 100 dan 500 won tersebut. Lalu bagaimana dengan mata uang kertas di Korea Selatan? Uang kertas Korea Selatan saat ini dikeluarkan dalam 3 nilai yaitu 1.000 won, 5.000 won dan 10.000 won. Kisah dibalik gambar yang tercetak di mata uang kertas tersebut tidak kalah menariknya dengan gambar yang terdapat dalam koin. Ketiga uang kertas tersebut memuat gambar wajah tokoh-tokoh terkenal sepanjang perjalanan sejarah bangsa Korea.

Pertama, pada uang kertas 1.000 won yang berwarna ungu, terdapat gambar wajah Yi Hwang (hidup sekitar periode 1510-1570). Dia seorang cendekiawan dan filsuf ternama di era Dinasti Yi (masa Kerajaan Chosun). Meskipun mendapat posisi paling tinggi di jajaran pegawai kerajaan, dia memilih mengundurkan diri dan kembali ke kampung halamannya di mana di sana ia kemudian menjadi intelektual yang terkenal. Ia menulis banyak teori terutama mengenai Joo Ja Hak (Confucianism) dan juga mendirikan Do San Learning Institute. Interpretasinya mengenai Konfusianisme yang disebut To Gye Hak menjadi subyek studi di Dunia Barat maupun Timur sampai saat ini.

Selanjutnya, uang kertas Korea Selatan yang berwarna coklat muda bernilai nominal 5.000 won. Di sini ada wajah Master Yi-I (hidup sekitar tahun 1536-1584). Ia juga seorang cendekiawan besar pada era Dinasti Yi dan terkenal sangat jenius karena lulus ujian pegawai kerajaan pada usia 13 tahun. Setelah banyak melakukan tugas-tugas kerajaan, ia mengundurkan diri dan mengabdikan dirinya menjadi penulis. Ia menerbitkan banyak buku mengenai filsafat, Konfusianisme dan administrasi publik. Baik Yi-Hwang dan Master Yi-I bisa menjadi tauladan sebagai orang yang meninggalkan kedudukan yang sangat tinggi di pemerintahan (jabatan yang sangat prestisius dan diidam-idamkan semua orang pada masa itu) dan memilih menjadi seorang intelektual yang mencerahkan masyarakat dengan pemikiran-pemikirannya.

Terakhir, uang kertas 10.000 won berwarna hijau muda dan merupakan mata uang yang nilainya paling tinggi di Korea Selatan saat ini. Di uang kertas ini ada wajah tokoh paling termasyur di Korea yaitu Sejong The Great atau Raja Sejong (1397-1450). Jasa beliau yang paling besar pada bangsa Korea adalah menciptakan alfabet Korea yang disebut Hangeul. Pada masa pemerintahannya, Raja Sejong melihat banyak rakyat biasa tidak dapat membaca dan menulis alfabet Cina yang digunakan oleh kaum terpelajar. Beliau memahami frustasi rakyatnya yang tidak dapat membaca dan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan mereka secara tertulis. Beliau kemudian mengorganisir sebuah tim untuk menciptakan alfabet yang mudah dipahami oleh rakyat Korea. Alfabet ini disebut Han Geul. Alfabet ini menjadi cikal bakal huruf Korea modern yang dipakai sehari-hari sampai hari ini.

Popularitas mata uang Korea Selatan, baik yang dalam bentuk koin maupun kertas, beberapa tahun terakhir ini disaingi oleh kartu kredit yang disebut sin yung kate. Hampir semua orang Korea Selatan mempunyai kartu kredit yang bisa digunakan untuk berbelanja hampir semua barang dan jasa. Saking mudahnya memiliki kartu kredit (yang sering kali dikeluarkan oleh bank walaupun si penerima tidak punya dana di bank) membuat masyarakat Korea Selatan melakukan belanja yang berlebihan. Apa akibatnya? Saat ini di Korea Selatan sekitar 2/3 dari total kredit bermasalah adalah ketidakmampuan untuk membayar tagihan kartu kredit (Korea Herald, 20 Juni 2004). Sungguh sayang jika mata uang Korea Selatan akan cepat hilang karena kalah bersaing dengan ekspansi "uang plastik" atau tingginya inflasi seperti nasib koin 1 dan 5 won dahulu.

Menurut saya, alangkah baiknya jika semua jenis mata uang Korea Selatan bisa beredar lebih lama. Ini karena uang logam dan uang kertas Korea Selatan mempunyai "nilai" lebih tinggi dibandingkan kartu kredit. Yaitu, dengan mempelajari arti gambar-gambar pada uang logam dan uang kertas tersebut orang Korea Selatan bisa mengingat kembali soal nasionalisme, kebudayaan serta nilai-nilai kehidupan bangsa mereka yang sangat penting. Dibandingkan dengan nilai nominal, inilah "nilai intrinsik" yang paling tinggi nilainya dalam mata uang tersebut.***

14 Juli 2004
(Waktu jangma chol dan "inflasi chol" di Korea Selatan)
Copyright: Ratih Anwar

0 Comments:

Post a Comment

<< Home