Wednesday, November 01, 2006

Pohon Cinta Orang Korea

Pada suatu hari, saya dan dua orang teman pria (satu Indonesia dan satu Korea) berjalan-jalan di Nami seom, sebuah pulau buatan yang sangat terkenal menjadi lokasi drama seri Korea kondang “Winter Sonata”.

Pulau Nami sebenarnya adalah sebuah daratan yang mengapung di sebuah danau. Bentuknya seperti bulan sabit. Untuk sampai ke pulau ini orang harus naik kapal ferry 10 menit lamanya. Danau ini terletak di Propinsi Kangwon di sebelah timur laut semenanjung Korea.

Pulau Nami tidak terlalu luas. Orang bisa berjalan mengitarinya, yaitu menyusur sepanjang tepinya, jika berjalan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan tak akan memakan waktu 2 jam. Jika naik sepeda akan makan waktu kira-kira 1 jam. Dan kalau naik mobil jip khusus lebih cepat lagi, paling setengah jam. Jadi ada banyak cara untuk menikmati pemandangan indah pulau Nami.

Pulau Nami menjadi terkenal karena menjadi lokasi kisah drama antara Joon-sang dan kekasihnya, Yoo-jin. Joon-sang (Bae Young Jun) digambarkan sebagai pria yang berhati lembut dan penuh perhatian pada wanita. Karakteristik Bae yang gentleman ini membuat dia sangat diidolakan ibu-ibu di Jepang yang menonton sinetronnya. Bahkan mereka sampai memberi julukan khusus “Yonsama” padanya.

Alkisah di drama seri Winter Sonata ini terjadi kisah cinta yang manis tapi tragis antara Joon-sang dengan Yoo-jin. Kedua remaja ini lahir dan besar di Pulau Nami dan jatuh cinta, masing-masing sebagai cinta pertama. Mereka berdua meninggalkan Pulau Nami untuk menempuh SMU di kota lain (Chuncheon). Pada suatu hari mereka berjanji akan bertemu pada malam Tahun Baru. Pada malam pertemuan itu, Yoo-jin menunggu kekasihnya di tepi jalan yang dijanjikan. Situasi malam tahun baru diguyur hujan salju dan tubuh Yoo-jin menggigil karena kedinginan, tetapi Joon-sang yang ditunggu tidak kunjung datang. Pada saat Yoo-jin menunggu, sebenarnya Joon-sang dalam perjalanan ke bandara dan akan terbang ke Amerika. Tetapi dalam perjalanan Joon-sang keluar dari mobil dan berlari menuju tempat dimana ia dan Yoo-jin berjanji akan bertemu. Malang tak dapat ditolak, ketika hampir sampai di tempat yg dijanjikan Joon sang tertabrak mobil dan tewas Cinta Joon-sang kepada Yoo-jin membuatnya rela menggagalkan kepergiannya ke Amerika.

Jajaran pohon pinus di Pulau Nami ini begitu artistik. Deretan pohon pinus yang berukuran besar seolah mengawal sebuah jalan setapak berukuran 5 meter menuju tepi pulau Nami. Di tepi pulau Nami air danau yang hijau dan bergelombang deras menggambarkan gejolak kehidupan manusia yang mengalir terus seperti air. Di deretan pohon-pohon pinus itulah, dalam “Winter Sonata” hubungan Yoo-jin dan Joon-sang berkembang menjadi cinta yang kokoh.

Saat-saat berjalan mengelilingi pulau Nami itu, sampailah saya dan dua teman saya di tempat yang jalan setapaknya dipagari oleh pohon-pohon pinus. Tiba-tiba saya teringat beberapa film Korea yang selalu melibatkan pohon pinus dalam kisah percintaan orang Korea.

Saya ingat dalam film favorit saya, “My Sassy Girl”, kedua tokoh utamanya yang belum sepakat dengan masa depan hubungan cinta mereka memutuskan untuk menyimpan surat bertuliskan perasaan mereka satu sama lain dan menguburnya di bawah sebuah pohon pinus. Mereka berjanji, kelak di tempat yang sama dua tahun lagi akan bertemu. Pada saat itu, nasib hubungan mereka akan mereka tentukan. Menikah atau berpisah. Keduanya lantas tidak saling bertemu selama 2 tahun. Dua tahun berlalu dan hanya si pria yang datang kembali ke pohon pinus itu. Ia menunggu kekasihnya yang tidak datang-datang. Kekasihnya datang setelah 3 tahun dan tentu saja tidak bertemu dengan teman prianya.

Ketika dia sedang asik memandang pohon pinus dengan hati yang gundah, seorang kakek menyapa.
“ Apa yang sedang kamu lakukan, gadis cantik?”
“Saya sedang menunggu seorang pria. Kami berjanji bertemu disini satu tahun yang lalu, tapi saya tidak datang”.
“Apakah kamu melihat keanehan pada pohon pinus ini?” Tanya laki-laki tua tadi.
“Tidak, sepertinya sama seperti pohon pinus yang dulu”

Laki-laki tua itu tersenyum. Ia berkata:
“Setahun yang lalu ada seorang pemuda datang ke tempat ini menunggu kekasihnya. Hatinya sangat kacau karena pohon pinus tersebut telah tumbang disambar petir. Maka ia segera mencari pohon pinus yang mirip dan menanamnya di tempat pohon pinus yang tumbang itu. Ia khawatir, jika pohon pinus itu hilang maka hati kekasihnya akan sedih”.

Si gadis terkesiap mendengar cerita itu. Ia perhatikan memang pohon pinus itu agak berbeda dengan pohon pinus yang dahulu. Hatinya tersentuh oleh penuturan Kakek tua tentang apa yang telah dilakukan kekasihnya. Ia merasa menyesal mengapa menyia-nyiakan cinta kekasihnya selama bertahun-tahun…

Demikian cerita tentang pohon pinus yang menjadi bukti ketulusan dan kekuatan cinta. Kasih sayang dan cinta orang Korea yang mendalam dan tak pernah terakhir juga pernah saya saksikan dalam film “Letter”. Dalam kisah ini, seorang pria yang meninggal karena sakit kanker otak meninggalkan sebuah pohon pinus untuk anak dan istrinya. Sebuah simbolisasi dari cinta yang tak pernah pupus, walau malaikat maut memisahkan dua insan yang saling mencintai.

Tergelitik oleh kisah-kisah pohon pinus di film-film dan sinetron korea tersebut, saya bertanya kepada teman Korea saya.

“Mengapa orang Korea sering melibatkan pohon pinus dalam kisah cinta mereka?”

Teman saya tersenyum dan menyipitkan matanya (yang sudah sipit itu).
“Pohon pinus itu batangnya tegak dan lurus,” jawabnya. “Itu simbol cinta yang lurus dan tidak bercabang-cabang.”

Kami berjalan lagi sambil memperhatikan pohon pinus yang batangnya kokoh dan lurus-lurus. Ah, saya membatin, alangkah indahnya cinta yang kokoh. Seperti kekokohan cinta Jun-sang dalam “Winter Sonata” dan tokoh laki-laki dalam film “My Sassy Girl”.

Dan alangkah indahnya cinta yang lurus itu, utuh dan tidak terbagi-bagi. Saya membatin lagi, bagaimana orang bisa memberikan cinta yang penuh kepada orang yang dia kasihi kalau perhatiannya dia bagikan kepada (banyak) orang lain???

Teman Korea saya tiba-tiba menunjuk kepada jajaran pohon pinus yang daunnya tetap hijau walaupun di musim dingin.
“Daun pohon pinus itu ever green, selalu hijau. Itu ibarat cinta yang tidak pernah berakhir.”

Everlasting love. Oh, betapa indahnya. Walaupun penyakit akan memisahkan sepasang kekasih, cinta dihati mereka tetap utuh seperti pohon pinus yang selalu hijau di setiap musim.

Saya termangu. Pohon pinus adalah pohon cinta bagi orang Korea karena mengandung filosofi cinta yang kokoh, lurus dan tak pernah berakhir.

Hmmm.. saya jadi ingin bersandar pada “sebatang pohon pinus”. Ingin merasakan perlindungan dan keteduhannya selamanya…***

Kenangan di Nami seom bersama Kim Hyung Jong sonsengnim, April 2006

Friday, September 16, 2005

Mengapa (Tidak) Menonton Film Korea?

Sepekan Film Korea (SFK) telah terselenggara hingga lima kali di Yogyakarta sampai tahun 2004 kemarin. Pemutaran film-film layar lebar secara enam hari non-stop tersebut memang telah jadi hajatan rutin Center for Korean Studies Universitas Gadjah Mada tiap tahun. Tahun ini film-film Korea terbaru telah dipersiapkan untuk diputar di Sepekan Film Korea 2005.

Tujuan ditayangkannya film-film negeri ginseng tersebut selain untuk mengenalkan budaya Korea juga sekaligus untuk menyediakan kesempatan masyarakat Indonesia mengapresiasi sinema Korea (yang juga salah satu produk budaya Korea). Masyarakat Yogyakarta, terutama generasi mudanya, setiap tahun selalu menyambut SFK dengan sangat antusias. Setiap hari diputar 2 film dan satu film ditonton rata-rata 600 orang.

Apakah ini berarti sinema Korea sudah diterima di hati masyarakat Indonesia?

Setelah kesuksesan sinetron Taiwan Meteor Garden, pemirsa Indonesia melihat bahwa serial teve dan film Asia, termasuk dari Korea Selatan, merupakan alternatif tontonan yang menarik. Mini seri dari Korea yang memasuki layar kaca Indonesia, seperti Winter Sonata, Endless Love, Hotelier, atau All About Eve, ternyata juga mendapat sambutan yang hangat. Setelah mengenal dan menyukai Tao Ming-Tze, penggemar sinetron mulai mengenal aktor-aktor muda Korea Selatan, terutama Bae Yong-Jun yang menjadi aktor utama dalam mini seri drama romantis dan menyentuh hati Winter Sonata.

Nampaknya gelombang hallyu telah merambah sampai Nusantara. Namun dibandingkan dengan Cina, Jepang dan Taiwan yang secara budaya dan geografis dekat dengan Korea, Indonesia dan negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura dan Vietnam memang terlambat di dekati hallyu.

Istilah hallyu telah muncul di Cina tahun 1997 untuk menyebut gelombang budaya pop Korea yang melanda generasi muda Cina. Dampaknya di Cina luar biasa karena kemudian lahirlah hahanzu, yaitu fans fanatik aktris, aktor, penyanyi dan budaya pop Korea.

Fenomena hallyu di Cina tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah penetrasi budaya yang sukses. Umumnya negara-negara industri maju yang mampu melakukan ekspansi budaya sampai ke luar batas negara. Menurut Prof. Yang Seung-yoon dari Hankuk University of Foreign Studies di Seoul, ekspansi budaya terjadi dan akan berkelanjutan jika fundamental perekonomian suatu negara sudah cukup kuat. Apakah Korea Selatan termasuk negara kelompok ini?

Ada beberapa sebab mengapa kini budaya pop Korea Selatan mampu menjelajah cukup luas di Asia. Pertama, Korea memang telah menjadi negara maju sejak resmi menjadi anggota OECD tahun 1996. Kesuksesan industrialisasinya membawa pengaruh yang besar di Asia. Cina, Vietnam dan Indonesia adalah penerima investasi asing Korea dan pasar yang luas bagi produk-produk industri Korea. Umumnya ekspansi budaya mengawali atau mengikuti ekspansi ekonomi suatu negara dan menjadi salah satu strategi perluasan pasar.

Kedua, budaya pop Korea mempunyai keunikan, yaitu meskipun memadukan unsur Amerika dan Jepang tapi terlihat segar dengan kandungan yang kuat aroma Korea-nya. Kemampuan mengharmoniskan nilai Timur dan Barat ini membuat drama dan film Korea lebih disukai di Cina. Sebaliknya, sinema Jepang tidak disukai di Cina karena dianggap terlalu ekstrem dan kebarat-baratan. Lagu pop Korea juga sangat laris di Cina karena berirama dinamis, tidak konvensional, dan dianggap mampu memuaskan jiwa dan keinginan generasi muda. Di Jepang, film layar lebar Korea disambut hangat karena menawarkan tema-tema alternatif dan mengandung segi hiburan yang tinggi.

Ketiga, perkembangan industri budaya pop di Korea sangat pesat sepuluh tahun terakhir ini. Tahun 1997 disebut sebagai tahun renaissance film Korea karena ada pendekatan baru dalam membuat film, yaitu lebih menonjolkan kreativitas, kebebasan berekspresi dan mengusung tema individualisme yang sesuai kecenderungan masyarakat Korea sekarang. Hasilnya muncul berbagai genre film dan lahir pula sutradara-sutradara film independen. Pendekatan baru ini ternyata meningkatkan gairah membuat film, termasuk film-film pendek yang didukung penayangannya oleh bioskop-bioskop lokal.

Keempat, pertumbuhan industri film di Korea tak lepas dari peran pemerintah. Di samping memberlakukan kuota tayang (minimal 106 hari per tahun untuk film domestik), pemerintah Korea melakukan revitalisasi industri film domestik sejak tahun 1973 melalui Komisi Film Korea (KOFIC).

Kegiatan Komisi Film Korea dibagi dalam lima departemen. Departemen Promosi menyediakan dana dan bantuan untuk film lokal. Departemen Promosi Internasional mempromosikan film Korea di luar negeri. Departemen Pendidikan mengelola Akademi Film Korea, Akademi Film Animasi Korea, dan mendukung 40 institut perfilman di Korea. Departemen R&D yang membuat penelitian, statistik film, dan publikasi. KOFIC juga mengelola studio out-door dan in-door di Seoul Complex Studio untuk mendongkrak mutu visual sinema Korea. Kegiatan KOFIC lainnya yang menarik adalah lomba penulisan skenario film dua kali setahun dan skenario film animasi sekali setahun. KOFIC menyeleksi dan mendanai film pendek, film dokumentasi, film independen dan film animasi.

Untuk mempromosikan film Korea di luar negeri, KOFIC membuat terjemahan film Korea dalam berbagai bahasa seperti Perancis, Jerman, Itali, Jepang, Cina, Rusia, dan Spanyol. KOFIC mendukung ikut sertanya sinema Korea di festival-festival film internasional bergengsi, disamping Korea sendiri sering menjadi tuan rumah seperti di Busan Internasional Film Festival. Jika tahun 1999 sejumlah 80 film Korea diikutsertakan di 73 festival film internasional, maka pada tahun 2002 jumlahnya meningkat menjadi 280 film (KOFIC, 2002).

Hasilnya tidak sia-sia karena film Korea akhirnya merebut beberapa penghargaan internasional. Film Chihwaseoun dan Oasis memenangkan Sutradara Terbaik pada Festival Film Internasional di Cannes dan di Venice tahun 2002. Film animasi My Beautiful Girl, Mari mendapatkan grand prize pada Festival Film Animasi Internasional. Bahkan film-film terlaris tahun 2001 seperti My Sassy Girl dan My Wife is A Gangster, menarik Hollywood dan dibeli oleh Dreamworks Pictures dan Miramax International untuk dibuat versi Amerikanya (Cinemags, April-Mei, 2003).

Di dalam negeri film Korea juga sukses menuai box office. Statistik film yang dirilis KOFIC memperlihatkan film lokal mampu menggeser dominasi film impor, terutama dari Hollywood. Jika pada tahun 1991 di Korea pangsa penonton film lokal hanya 21 persen, tahun 2001 justru saat kuota tayang makin dikurangi melonjak jadi 50 persen. Dari 10 film terlaris di Korea, rangking satu sampai lima diduduki oleh film Korea. Film yang menjadi box office tahun 2001 adalah Friend yang ditonton 2,5 juta orang. Tahun 2002 kembali film lokal menendang film Hollywood. Dari 10 film paling laris di Korea, lima di antaranya produksi lokal. Film The Way Home yang disutradarai oleh sutradara muda perempuan Lee Jeong-hyang menjadi box office dan ditonton lebih dari 1,5 juta orang di Korea (belum yang di luar Korea).

Film-film terlaris tahun 2001 dan 2002 bercerita tentang realitas sosial masyarakat Korea. Film Friend misalnya, menuturkan persahabatan sebagai salah satu bentuk relasi sosial yang penting di Korea. Sedangkan film The Way Home mengingatkan gejala runtuhnya loyalitas anak pada orang tua, yang di Korea merupakan nilai sosial paling utama. Film ini membuat banyak orang Korea merasa sangat bersalah karena meninggalkan orang tua mereka yang jompo di kampung halaman, sementara mereka sibuk dengan pekerjaannya di kota besar.

Bagaimana untuk lebih menikmati film Korea di Indonesia?

Suatu film bercerita tentang isu, budaya, sistem sosial tertentu yang merefleksikan suatu masyarakat. Apresiasi tentang budaya Korea yang mencukupi tentunya sangat bermanfaat untuk lebih memahami suatu permasalahan yang disuguhkan lewat film.

Sebagai contoh, menonton film Korea bertema gangster seperti Guns and Talks atau Friend (keduanya produksi tahun 2001) lebih asyik jika tahu bahwa masyarakat Korea adalah masyarakat patriarki dengan stratifikasi sosial yang kaku. Tema gangster yang menjadi genre sinema Korea akhir-akhir ini muncul akibat frustasi sebagian masyarakat atas tergerusnya nilai-nilai tradisional. Dalam film bertema gangster, orang Korea mencoba menyusun suatu keluarga artifisial dimana laki-laki tetap dominan dalam masyarakat (Kim Sohee, 2002).

Tetapi, tanpa tahu menahu sedikit pun seperti apa kondisi sosial budaya di Korea, sinema Korea tetap enak diikuti. Sembari menonton kita dapat mengetahui kehidupan, adat istiadat dan emosi orang Korea (walau tidak seratus persen dapat mewakili). Beberapa tema film mewakili situasi yang memang sungguh-sunguh dialami oleh rakyat Korea Selatan. Misalnya film JSA (Joint Security Area) dan Taekukki yang bertema konflik politik dan perang dingin antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Ketika menonton film Korea Selatan kadang-kadang muncul pertanyaan: mengapa sering ada adegan menangis, baik yang dilakukan oleh aktor maupun artis? Ternyata menangis adalah salah satu karakter orang Korea. Menurut Lee O-Yong, mantan Menteri Kebudayaan Korea, bukan orang Korea kalau tidak bisa menangis. Jika sedih orang Korea menangis, jika bahagia juga menangis. Karakter ini muncul akibat lamanya mereka hidup dalam penderitaan. Menderita karena sumber daya alam terbatas, iklim yang keras, sering mengalami perang dan pernah hidup dalam kediktatoran.

Apakah film dapat menjadi alat diplomasi?

Bagi pemerintah Korea Selatan, mereka menyadari betul bahwa film dapat menjadi media untuk peningkatan pemahaman budaya antar negara dan alat diplomasi. Menurut Prof. Yang Seung-yoon, budaya pop Korea telah mendukung keberhasilan Korea Selatan dalam hubungan diplomasinya dengan negara-negara di ASEAN.

Film dan musik dari negeri ginseng ini telah mengubah persepsi orang Vietnam terhadap Korea Selatan yang menjadi sekutu Amerika Serikat waktu perang Vietnam. Perasaan benci berubah menjadi hubungan romantis dan sentimentil generasi muda Vietnam dengan artis dan musisi Korea. Banyak generasi muda Vietnam kini juga menjadikan Korea Selatan sebagai kiblat budaya pop, mode, dan standar kemakmuran.

Di Indonesia sinema maupun musik Korea belum begitu sepopuler di Vietnam, Jepang atau Cina. Ini karena masih sedikitnya pemutaran film Korea di televisi atau di bioskop serta sedikitnya resensi tentang sinema dan musik Korea. Bagi orang awam juga sulit membedakan film Korea dari film Jepang, Hongkong atau Taiwan karena aktor atau artisnya mempunyai ciri-ciri fisik yang hampir sama.

Cara mudah untuk mengenali film Korea adalah dari tulisan judul filmnya. Judul film dan nama aktor-aktrisnya biasanya ditulis dengan huruf han geul (alfabet Korea) yang berbeda dengan alfabet Mandarin dan Jepang. Bisa juga dari bahasanya (jika tanpa dubbing). Menurut saya lebih puas jika menonton film dalam bahasa aslinya. Sebab bahasa Korea itu sendiri merupakan salah satu keunikan film Korea.***


Referensi:

Kim Sohee, “A Review of Korean Cinema in 2002”, Korean Cinema 2002, KOFIC, Seoul

KOFIC, “The Korean Film Commission”, Korean Cinema 2002, KOFIC, Seoul

My Wife is A Gangster, The Most Powerful Lethal Weapon is in a Woman!, Cinemags Edisi 46/Mei 2003

My Sassy Girl, A Big-Hearted Boy and His Eccentric Girl Friend, Cinemags Edisi 45 April 2003

Kim Youn-jung, “Korean Pop Culture Craze Hayyu Sweeps through Asia,” Korea Pictorial, Seoul


Yang Seoung-Yoon, “Expanding Cultural Exchange with Southeast Asia”, Korea Focus, January-February, 2000

Wednesday, September 14, 2005

Seoul History Museum

Untuk apa kita melakukan refleksi terhadap sejarah?

Sebab, “SEJARAH DAPAT UNTUK MEMPREDIKSIKAN MASA DEPAN, KARENA MASA DEPAN ADALAH REFLEKSI DARI MASA LALU”(Han Yong-keon, profesor sejarah Kyung Hee University Seoul, 2002).

***

Melawat ke Korea Selatan tidak akan sempurna jika tidak mengunjungi museum. Mengapa? Di museum, hampir apa saja yang kita ingin ketahui mengenai negara ini bisa diperoleh. Korea Selatan mempunyai ratusan museum yang sangat menarik yang tersebar di berbagai kota. Ada museum yang sederhana sampai museum yang paling modern menggunakan teknologi informasi mutakhir.

Kota Seoul sebagai ibukota negara mempunyai banyak museum dengan aneka ragam koleksi. Museum-museum tersebut ada yang dikelola oleh pemerintah, lembaga swasta, pribadi, maupun universitas. Di Universitas Kyung Hee tempat saya belajar ada museum sejarah manusia atau Museum of Human History, dimana saya dapat menyaksikan tiruan tengkorak manusia purba homo soloensis, nenek moyang saya dari Jawa. Saya juga sempat berkunjung ke Museum Kimchi di gedung KOEX (Korea Expo) di daerah Gangnam, Seoul. Di museum yang dilengkapi dengan tata cahaya yang bagus tersebut saya dapat mengetahui secara detil sejarah makanan khas bangsa Korea, variasi dan cara pembuatan Kimchi.

Pada musim panas bulan Juli tahun 2004 lalu saya dan beberapa teman menyempatkan berkunjung ke museum sejarah kota Seoul (Seoul History Museum). Museum yang menarik ini terletak di pusat kota Seoul dan merupakan salah satu museum yang paling baru dan modern di Korea. Museum sejarah kota Seoul ini baru resmi dibuka bulan Mei tahun 2002 lalu. Menurut saya, museum ini tidak boleh dilewatkan bagi mereka yang sangat ingin mengetahui seluk-beluk ibukota Negeri Ginseng.

Pendirian Museum Sejarah Kota Seoul bertujuan untuk mendokumentasikan, merawat dan sekaligus memperlihatkan keunikan sejarah kota dan masyarakat Seoul di berbagai masa. Hal ini sangat penting terutama bagi orang Korea sendiri karena kota Seoul selama 600 tahun lebih telah berperan sebagai ibu kota Korea.

Kota Seoul telah menjadi pusat pemerintahan sejak jaman Dinasti Joseon (1392-1910) sampai era pemerintahan Presiden Roh Moo-Hyun sekarang. Disamping itu kota Seoul menjadi saksi dan lokasi dari berbagai peristiwa bersejarah mengenai jatuh bangunnya bangsa Korea.

Hal yang paling mengesankan adalah pembangunan museum ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat Seoul. Ketika pembangunannya diumumkan pada tahun 1985, Gubernur Seoul mengajak peran serta seluruh masyarakat dengan mengatakan bahwa museum ini adalah “museum for the people, by the people”. Museum dari rakyat, untuk Rakyat.

Himbauan sang gubernur menyebabkan banyak masyarakat yang menyumbangkan atau meminjamkan benda-benda bersejarah pusaka keluarga mereka untuk museum ini. Bahkan ada sebuah keluarga yang menyumbang sebanyak 29.143 benda bersejarah untuk dipamerkan di museum sejarah ini.

Selain menyumbangkan benda bersejarah koleksinya, masyarakat Seoul juga dilibatkan dalam pengelolaan museum ini sehari-harinya. Masyarakat dapat berpartisipasi sebagai pemandu wisata (guide) di museum ini. Sebagian besar guide di museum ini adalah tenaga sukarela dan mereka siap melayani pengunjung dengan berbagai bahasa yang mereka kuasai. Hal ini tentunya menambah nilai lebih museum dalam melayani masyarakat yang ingin mengakses pengetahuan tentang isi museum.

Agar manfaat museum ini lebih optimal bagi masyarakat, pemerintah Seoul juga mendesain museum ini menjadi museum yang menggunakan teknologi informasi terbaru. Teknologi informasi ini memungkinkan pengunjung dapat berinteraksi lebih dekat dengan benda yang dipamerkan serta mendapat gambaran wujud kota Seoul dari berbagai jaman secara lebih realistis dan hidup. Teknologi keamanan yang modern juga dipasang di setiap sudut sehingga benda-benda bersejarah yang sangat tinggi nilainya tersebut aman dari usaha pencurian.

***

Di museum dua lantai yang megah ini, dinamika sejarah dan kehidupan masyarakat Seoul dapat disaksikan pada empat galeri utama dan 10 galeri pendukung. Galeri utama yang bertema “The Capital of Joseon” (ibukota Joseon) memamerkan miniatur kota kuno Seoul saat menjadi ibukota Dinasti Joseon. Sedangkan galeri bertema “The Culture of Seoul” berisi warisan seni budaya masyarakat Seoul seperti keramik dan handycrafts kuno serta foto-foto figur terkenal dalam sejarah Korea.

Galeri “The City of Seoul” dimaksudkan untuk memuaskan rasa ingin tahu pengunjung tentang situasi di Seoul ketika kota yang tertutup ini mulai dibuka pada dunia Barat, di saat penjajahan Jepang (1910-1945), di masa perang Korea (1950-1953) dan ketika mengalami industrialisasi yang pesat sejak dekade 1960.

Barang-barang yang dipamerkan sangat beragam, menarik, interaktif, serta mengandung nilai sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Tak heran jika masyarakat Seoul menjadikan museum ini sebagai tempat untuk belajar yang mengasyikkan bagi keluarga.

Ketika berada di museum ini, saya melihat para orang tua yang sangat antusias membawa putra-putri mereka ke museum. Pengelola museum menyediakan ruang pamer khusus untuk anak-anak di mana di ruang pamer tersebut anak-anak dapat berinteraksi secara dekat bahkan bersimulasi dengan barang yang dipamerkan. Orang tua mereka juga dengan tekun menerangkan dan membimbing anaknya menggunakan berbagai fasilitas museum.

Sebagai tempat bermain dan belajar memang museum ini mempunyai banyak kelebihan. Yang menarik, selain dari yang sudah disebutkan, kelebihan lainnya adalah pengelola museum menyelenggarakan kelas khusus yang disebut “Museum School” atau sekolah museum untuk mereka yang ingin belajar lebih mendalam tentang koleksi museum. Sekolah museum ini tidak gratis dan bisa menjadi tambahan pendapatan yang lumayan bagi museum.

Tampaknya pihak pemerintah kota Seoul dan pengelola Museum Sejarah Seoul memang menyediakan museum ini sebagai fasilitas belajar yang luas bagi masyarakat Korea. Sebagai contoh, pada bulan Juli 2004 pengelola museum ini bekerjasama dengan pemerintah Kerajaan Kamboja mendatangkan dan memamerkan artifak-artifak asli Angkor Wat di museum ini. Dengan demikian, masyarakat Seoul mendapat kesempatan mengapresiasi budaya dan sejarah bangsa lain selain budaya dan sejarah mereka sendiri.

Melihat betapa bermanfaat dan menariknya Seoul History Museum tersebut saya berandai-andai kota saya, Yogyakarta, mempunyai museum sejarah kota Yogyakarta. Karena, kota Yogyakarta selain mempunyai peran historis yang sangat penting dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia juga merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang menjadi anggota Liga Kota-Kota Bersejarah Dunia.***

Januari 2005
Copyright: Ratih Anwar